Paksa Bisa Biasa VS Mendidik bukan Mendadak

Oleh : Pela Indra Yanih, S.Si.

(Guru SMPI Mentari Indonesia)

Urgensi pendidikan yang paling mendasar adalah kata “sadar”. Sadar akan kewajiban dan hak mereka tanpa adanya paksaan dari pihak manapun, dan untuk mencapai kata “sadar” tersebut mungkin telah banyak karya ilmiah dicobakan, telah banyak metode dituai, telah banyak pihak ikut terjun membicarakannya.

Kembali kepada kata “sadar” tadi, maka pendidikan dikatakan berhasil. Lantas mengapa ada jarak yang rasanya sangat jauh, untuk anak sampai pada kata “sadar” tersebut? mari kita sama-sama coba introspeksi diri kita masing-masing. Guru sudah amat dikenal sebagai orangtua kedua yang akan dijadikan contoh bagaimana karakter anak terbentuk, dan hal tersebut dimulai dari keluarga itu sendiri yakni orang tua mereka, dalam surat at-tahrim ayat 6 dikatakan “wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Poin introspeksi pertama ialah: sudah seberapa keras kita mau mencoba faham dengan agama kita atau pedoman hidup kita, karena hal tersebut yang membuat kita mau setidaknya memperhatikan terutama adab dan akhlak anak-anak kita, walaupun hal itu sepertinya terdengar sepele (kecil). Guru yang baik tidak sebatas mencukupi rasa haus mereka tentang segala hal yang mereka ingin tahu karena jika hal itu terjadi, guru tidak lagi dibutuhkan dan akan digantikan dengan teknologi bernama google. begitu pula orang tua mereka dirumah, orang tua yang baik tidak hanya berfikir bagaimana mencukupi setiap keperluan anaknya. Saya sering sekali mendapat nasihat yang sepertinya hal tersebut sangat ringan, tapi seperti itulah adab, jika tidak terbiasa akan menjadi hal yang sepertinya kolot atau tabu. Sebagai contoh, saya sering sekali mendapat nasihat ketika bertemu dengan orang yang saya kenal di jalan, kami saling berpapasan, namun tidak ada interaksi tegur sapa, disitulah nasihat sederhana tersebut saya dengar. Seperti saat anak-anak dengan berkendara lalu lalang mendahului kendaraan yang dikendarai gurunya. Jika tidak terjadi interaksi, suami saya lantas berkata, “ko anak-anak ga sopan ya ketemu gurunya di jalan diem aja (cuek)?”. Bukan mereka yang tidak sopan, itu pembelaan saya, namun akhlak rasulullah belum sampai kepada mereka abi.

Belum sampai kepada mereka, bagaimana seharusnya bila bertemu dengan guru, orangtua atau orang yang mereka kenal ketika berpapasan di jalan. Bukankah hal tersebut terdengar sederhana? ya begitulah akhlak. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan ” Kebanyakan kerusakan anak disebabkan karena orangtua mereka, mereka menelantarkan dan tidak mengajarkan anak ilmu dasar-dasar wajib agama dan sunnah-sunnahnya. mereka menyia-nyiakan anak-anak di masa kecil mereka.” [tuhfatul Maulud hal.387]. Menerima profesi sebagai guru berarti kita sudah siap dengan segala konsekuensi yang ada, beriktikad menjadi orangtua berarti kita sudah siap dengan segala konsekuensi yang ada.

Instrospeksi kedua adalah, terkadang konsekuensi terhadap kesalahan anak tidak ada hubungannya dengan kesalahan yang mereka buat, sebagai contoh, ada seorang anak menumpahkan air di sofa, kita memberikan konsekuensi, tidak akan diizinkan menonton tv selama seminggu padahal tidak ada hubungan dengan kesalahan si anak. Seharusnya cukup dengan mengeringkan sofanya dengan cara sesuai perkembangan usianya, anak SD mungkin cukup dengan mengelapnya, jenjang SMP mungkin ia akan mengeringkannya dengan menjemur sofa tersebut. Anak SMA, mungkin akan mencoba mengganti atau memodif sofa tersebut, seperti itu seterusnya dan ini yang pernah saya contoh dari rasulullah mengenai mentertibkan sholat mereka.

Rasulullah pernah menegur salah seorang sahabat yang sholatnya tidak tuma’ninah, maka rasul meminta sahabat tersebut untuk mengulang-ulang sholatnya sampai ia tuma’ninah. saya rasa seperti itu bagaimana akhlak disampaikan, terus menerus diulang, dicontohkan, tidak kenal lelah, istikomah dan yang terakhir si pendidik harus ikhlas jika akhlak tersebut belum juga bisa diterapkan. Jangan mengajarkan adab kepada anak hanya sebatas sistem yang berupa aturan, yang kita sendiri tidak melaksanakannya ketika kita berada di luar sistem, bagaimana mungkin kita berharap anak-anak kita akan menerapkan akhlak pada semua lini dalam kehidupannya tanpa terkecuali, itu akan menjadi sebuah kemustahilan.

Sebagai penutup tulisan ini iringi setiap ikhtiar yang kita lakukan dengan do’a karena doa itu ibadah, dikabulkan itu hadiah, belum dikabulkan berarti pahala berlimpah jadi jangan pernah menyerah untuk terus berdo’a kepada Allah terutama untuk anak-anak kita.