Islam adalah agama yang dibawa oleh nabi Muhamad SAW, yang mengusung tema besar “Rahmatan lil ‘Alamin” (kebahagian bagi seluruh alam) yang selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai kesukuan, budaya dan lain sebagainya. Islam merupakan sebuah agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia mencapi 87% yaitu 207 juta jiwa, di susul kristen 7 % yaitu 16,6 juta jiwa, dari jumlah penduduk 238 juta jiwa berdasarkan Data Pusat Statistik Nasionla tahun 2010. Keberagaman agama yang ada di Indonesia seperti Islam, Kristen, Budha, Hindhu, Katolik tidak mempengaruhi sedikitpun dari pola pikir pemeluk agama di Indonesia yang menganut agama Islam untuk mendiskriditkan (memandang remeh) diluar dari pada agama Islam. Jika kita membandingkan dengan negara-negara timur tengah seperti Syuriah, Irak, Palestina, Turki dari sebagaian negara Islam disana jauh dari kata aman dan nyaman dalam menjalankan aktifitas ibadah di karenakan konflik yang terjadi bukan anatar agama saja bahkan satu keyakinanpun bisa berbuntut menjadi kekacauan dan petikaian.

Dilihat dari perkembangan penyebaran agama Islam di dunia, Islam dari tahun ketahun mengalami kemajuan yang sangat cepat. Pertumbuhan Islam lima kali lipat dibandingkan pertumbuhan agama kristen, kristen 46% sedangkan pertumbuhan Islam 235% baik di benua Asia, Eropa, Afrika bahkan sampai ke benua adidaya yaitu Amerika. Jumlah penduduk dunia (2013) adalah 7.021.836.029. Sebaran menurut agama adalah: Islam 22.43%, Kristen Katolik 16.83%, Kristen Protestan 6.08%, Orthodok 4.03%, Anglikan 1.26%, Hindu 13.78%, Buddhist 7.13%, Sikh 0.36%, Jewish 0.21%, Baha’i 0.11%, Lainnya 11.17%, Non Agama 9.42%, dan Atheists 2.04% (www.30 days.net).
Indonesia adalah merupakan mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, perseberan agama Islam di nusantara menurut buku Babad Tanah Cirebon sekitar abad ke-13, Islam dibawa oleh pedagang dari gujarat melalui jalur perairan (laut). Di ahir tahun 2000-an muslim Indonesia menjadi sorotan kerajaan Arab Saudi, kontan karena kuota haji yang diberikan pemerintah Arab Saudi terhadap pemerintah Indonesia dalam hal ini kementrian Agama dirasakan masih kurang dari pada animo masyarakat muslim Indonesia untuk menunaikan rukun Islam yang ke lima.

Haji menurut bahasa adalah Al-Qosdhu (menyengaja), sedangkan menurut istilah adalah menyengaja mengunjungi ka’bah untuk beribadah kepada Allah SWT. Ibadah haji merupakan ibadah yang di impikan oleh semua muslim di dunia tidak terkecuali muslim Indonesia, sehingga tidak heran disetiap musim haji ada cerita-cerita inspiratif dari muslim Indonesia yang akan menunaikan rukun Islam yang ke lima ini dengan berbagai keadaan. Di Sumatra Selatan bapak Sumadi berprofesi sebagai tukang sapu di sekolah swasta mengumpulkan rupiah demi rupiah selama 30 tahun untuk ongkos ibadah haji, di jawa tengah bapak Sutarjo berprofesi sebagai tukang becak tidak kalah mengharukan selama 40 tahun mengumpulkan hasil dari narik becanya di sisihkan untuk menunaikan ibadah haji dan masih banyak kisah-kisah yang lainya yang mana kesemuanya itu merupakan upaya dari muslim Indonesia untuk menginjakkan kakinya di tanah haram.

Di Indonesia orang yang sudah menunaikan rukun Islam yang ke lima di tuntut untuk lebih baik dalam segala bidang dalam sendi-sendi kehidupan, bahkan tidak jarang orang yang berstatus haji dianggap sebagai orang alim, mengerti tentang agama, ditokohkan, dijadikan imam sholat di musholah ataupun di amasjid. Anggapan masyarakat terhadap orang yang sudah haji dirasakan oleh H. Umar (cirebon) beliau merupakan kelompok terbang (kloter) dari wilayah kabupaten Cirebon pada tahun 2014 merasakan perbedaanya sebelum dan sesudah menunaikan ibadah haji dari segi penerimaan masyarakat terhadap dirinya, menurutnya padahal dirinya dalam pengetahuan masih jauh dari apa yang diharapkan oleh masyarakat sekitar.

Gelar haji yang di sematkan masyarakat terhadap orang yang selesai menuanikan ibadah haji merupakan gelar yang mengangkat status sosial orang tersebut di tengah masyarakat. Masyarakat menganggap bahwa dengan dia berhaji maka segala pengetahuan yang berkaitan dengan agama di anggap mampu dan mumpuni. Ini merupakan kekeliruan yang harus di luruskan karena dengan orang menunaikan ibadah haji tidak spontan orang tersebut memahami dan mengerti segala sesuatu dalam bidang agama.

Status sosial merupakan kebutuhan seseorang didalam masyarakat dikancah pergaulan dengan masyarakat yang lainya, sehingga tidak heran demi untuk menganggkat status sosial seseorang rela berkorban bahkan sampai berhutang agar status sosialnya naik di level di tingkat masyarakat sekitar. Haji merupakan gelar bergengsi di tengah masyarakat kita sehingga sebutan pak haji ibu haji sangat di impi-impikan oleh setiap muslim, padahal agama Islam melarang pemeluknya untuk melakukan aktifitas ibadah selain untuk Allah SWT, dan harus melakukannya dengan tulus ikhlas.

Penulis mengaharapkan kepada segenap pembaca khususnya umat Islam agar kita semua kembali kepada niat awal bahwasanya ibadah yang hanya diterima Allah SWT adalah ibadah yang dilandasi oleh kesadaran sebagai mahluk yang lemah dan ikhlas kemudian mengharapkan ridho Allah SWT bukan ingin dipandang tinggi di level masyarakat dan naik status sosial di tengah-tengah masyarakat.

Penulis: Waliyadin Sholeh, S.Pd.Iadin

(Guru Ilmu Pengetahuan Sosial)